Belum Ada Definisi yang Jelas, Iluni UI Minta Setop Kaitkan Kampus dengan Terorisme

(Last Updated On: Juni 13, 2018)

SUARAJAKTIM.COM – Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) meminta semua pihak untuk tidak mudah mengaitkan kampus dengan gerakan radikal ataupun radikalisme.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tentang adanya tujuh kampus yang terpapar radikalisme telah menggulirkan spekulasi yang menyudutkan berbagai perguruan tinggi. Alhasil, meme-meme tentang tujuh kampus terpapar radikalisme juga beredar di media sosial.

Menurut Ketua Umum Iluni UI, Arief Budhy Hardono, segala tindakan yang merugikan kalangan perguruan tinggi itu harus dihentikan agar tidak menimbulkan dampak sosial seperti gejolak, keresahan, dan saling curiga.

“Informasi yang menyebutkan tujuh kampus terpapar radikalisme adalah suatu hal serius,” tegas Arief dalam sebuah pernyataan pers yang diterima SuaraJaktim, Rabu.

“Pernyataan tersebut dapat menimbulkan dampak sosial yang meresahkan masyarakat kampus perguruan tinggi tersebut termasuk para keluarga mahasiswa, keluarga dosen alumninya, maupun masyarakat di luar kampus,” ujar Arief.

Ia mengatakan berbagai organisasi dan kelompok di lingkungan kampus bisa saling curiga akibat pernyataan BNPT tadi. Di sisi lain, lanjutnya, para pimpinan di perguruan tinggi mulai rektor, dekan, hingga ketua jurusan juga dibuat repot karena sibuk menyampaikan klarifikasi.

Arief menekankan, seharusnya ada definisi yang jelas tentang radikalisme terlebih dahulu. Bila belum jelas dengan disertai fakta kuat dan data yang terukur, kata dia, sepatutnya semua pihak berhati-hati dan menahan diri untuk melontarkan pernyataan publik perihal kampus yang terpapar radikalisme.

Menurut Arief, selama ini kehidupan sosial ataupun sikap toleransi di antara dosen dan mahasiswa kampus Universitas Indonesia (UI) baik di Depok maupun Salemba, Jakarta Pusat, beserta alumni sudah berjalan sangat baik. Bahkan, tidak pernah terdengar adanya konflik, apalagi yang melibatkan kekerasan antara mahasiswa, dosen, maupun alumni dikarenakan perbedaan agama, kepercayaan, dan paham.

“Demikian juga dengan kegiatan di masjid dan musala kampus baik yang di Depok maupun di Salemba berjalan sangat terbuka dan inklusif. Mahasiswa dan dosen datang ke masjid selain menjalankan ibadah salat, diskusi juga untuk memperdalam pengetahuan agama,” papar Arief.

Sementara itu, juru bicara Iluni UI, Eman Sulaeman Nasim, menambahkan, dosen dan alumni universitas berjuluk The Yellow Jacket itu itu sudah banyak yang berperan di lembaga pemerintahan, legislatif, yudikatif, hingga organisasi kemasyarakatan dan lembaga swadaya masyarakat demi memajukan Indonesia dalam bingkai NKRI yang berdasar Pancasila.

Sedangkan mahasiswa UI, sambung Eman, sudah banyak yang mengukir prestasi di bidang pengembangan ilmu pengetahuan baik di tingkat nasional maupun dunia sehingga mengharumkan nama bangsa dan negara Republik Indonesia.

“Karena itu, tuduhan bahwa kampus kami, Universitas Indonesia terpapar radikalisme sangat mengagetkan dan membuat banyak dari kami tersinggung,” tegasnya.

Eman melanjutkan, jika memang ada paham atau ideologi tertentu yang berkembang di kampus dan dianggap membahayakan keutuhan bangsa dan negara, maka sebaiknya aparat pemerintah seperti BNPT, Polri, Kementerian Dikti, serta Densus 88 berkoordinasi dengan pimpinan perguruan tinggi, untuk mengambil langkah pengamanan dan pencegahannya dalam operasi senyap.

“Tidak perlu digembar-gemborkan yang membuat suasana gaduh dan saling curiga,” kata Eman yang juga salah satu ketua Iluni UI.

Adapun Sekjen Iluni UI, Andre Rahadian, mengatakan, hingga saat ini belum pernah ada data dan fakta yang disampaikan sebagai dasar untuk menyatakan adanya paham radikal yang membahayakan negara berkembang di kampus UI.

Untuk itu, Andre Rahadian mengimbau para pimpinan maupun aparat lembaga pemerintahan untuk tidak mudah melontarkan statemen atau tuduhan ke publik yang dapat memojokkan atau berpotensi merusak nama baik kampus pergurusan tinggi tertentu tanpa disertai dengan bukti dan fakta yang akurat.

“Harus ada kesepahaman soal apa yang dimaksud faham atau gerakan radikal ini, terutama dilingkungan kampus dimana kebebasan mimbar akademik adalah hal yang sangat penting dijaga. Kalau aparat dan pimpinan lembaga berwenang sudah memiliki data dan fakta yang kuat dan akurat soal adanya faham atau gerakan radikal yang tidak sesuai atau bertentangan dengan Pancasila dan NKRI , bersikaplah seperti seorang pengayom,” ujarnya. (Hsyms/SJT-2)

Mari berbagi

You may also read!

Pegawai UPT Puskeswan DKPKP Ikuti Pelatihan Input e-Kertas Kerja

SUARAJAKTIM.COM - Sebanyak 20 pegawai UPT Pusat Pelayanan Kesehatan Hewan dan Peternakan (Puskeswan) DKPKP, ikuti Sosialisasi internal dan pelatihan

Read More...

Otoritas Palestina Sebut AS Berupaya Gulingkan Mahmoud Abbas

SUARAJAKTIM.COM - Seorang perunding senior Palestina, Saeb Erekat menuduh Amerika Serikat (AS) berusaha menggulingkan pemerintahan Presiden Mahmoud Abbas. Ia

Read More...

Target Menang Lawan Persebaya, Teco Berharap Persija Cetak Gol Cepat

SUARAJAKTIM.COM - Persija Jakarta akan menghadapi Persebaya Surabaya pada pekan ke-12 kompetisi Gojek Liga 1 bersama Bukalapak, Selasa (25/6/2018).

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu