Friend King Maduma Tamba Terinspirasi Ahmad Deedad

In Dunia Islam

SUARAJAKTIM.COM – Suatu ketika, Friend King Maduma Tamba bertanyatanya di dalam hatinya, “Kemana kita setelah meninggal dunia?” Pertanyaan itu selalu terbesit di dalam hatinya ketika mengikuti jejak orang tuanya meninggalkan Islam. King, sapaannya, pria 30 tahun ini terlahir Muslim karena kedua orang tuanya menikah secara Islam.

Tetapi ayahnya, justru kembali ke agama lamanya Kristen. Meski ayahnya menganut agama berbeda, dia membebaskan anak dan istrinya beragama apapun. Namun, tanpa alasan, ayahnya mengajak mereka untuk beribadah ke gereja.

Karena ketika itu masih sekolah dasar, dia dan kakak perempuannya, Derma, hanya mengikuti sang ayah. King memang anak yang sangat menyayangi kedua orang tua. Perintah keduanya selalu ditaati. Meski ke gereja, kakaknya dan dia tetap menjalankan shalat diam-diam.

Caranya dengan membuka atap rumah dan jendela kecil di kamarnya dan menumpang shalat di tetangga belakang rumah yang juga teman sekolah mereka. Mukena dan sajadah pun dititip di rumah tetanggannya. Suatu ketika Derma yang duduk di kelas empat SD jatuh sakit.

King ketika itu adalah siswa kelas tiga SD. Derma bangun malam, meminta King untuk dibuatkan susu hangat. Setelah meminum susu hangat, di pagi hari kakak perempuannya meninggal dunia, kembali kepada Allah SWT dengan tersenyum.

Konflik mulai terjadi di keluarganya, Ayahnya ingin memakamkan kakaknya secara non-Islam. Tetapi seluruh warga melarang, termasuk istrinya. Mereka berargumen, almarhumah tetap menjalankan Islam dan selalu shalat lima waktu.

“Bapak marah besar dan sedih, sejak saat itu, ibadah saya dan adik semakin dipantau ketat, bahkan saya dan adik harus dibaptis,” katanya. Ibunya diakui King, memang menjalani Islam sekadarnya.

Ketika ayahnya berusaha memperketat ibadah agamanya, dia pun ikut menjalani ibadah ke gereja. Ini ka rena ibunya memilih agar rumah tangga nya utuh. Sang ibu tidak ingin anak-anaknya sepertinya, harus mengalami kedua orang tua yang terpisah. Namun, King menyayangkan ibunya harus menggadaikan agama untuk duniawi.

Baca Juga!  Thomson: Cara Terbaik Amalkan Islam Pahami Alquran dan Sunah

Tetap Mengimani Islam Pemaksaan untuk pergi ke gereja dan mempelajari Alkitab ketika kecil tak merun tuhkan bangunan keimanan di dalam hati. King tetap yakin bahwa dia Muslim. Sejak kecil dia meyakini Islam sebagai agama yang benar, meski tidak mengerti alasan logisnya.

Setelah duduk di bangku SMP, dia berusaha memberanikan diri untuk kembali menjalankan shalat. Namun, hal itu hanya dilakukannya di sekolah. King dibantu kakak kelasnya belajar menghafal surah pendek (juz amma) dan membenarkan bacaan-bacaan shalat.

Dia juga mulai belajar Iqra. Setiap Jumat King diam-diam membawa baju dan celana panjang. Ketika ketahuan ayahnya, dia beralasan sedang ada acara di seko lahnya dan harus memakai pakaian tersebut.

Hingga suatu saat, keimanannya mulai diuji. Di suatu Jumat, saat itu dia tidak sha lat Jumat di sekolah, King meng gunakan baju koko dan sarung shalat di masjid dekat rumahnya.

Namun, ayahnya yang biasanya pulang kerja di sore hari, di hari itu pulang cepat. Ayahnya mendapati dia yang memakai peci, sarung dan baju koko. Terang saja ayahnya marah besar. Tak tanggung-tanggung dia menjadi target kekerasan.

Keributan itu mengundang tetangga sekitar datang dan melerai keduanya. Dia pun segera membawa baju seadanya, seragam, dan buku-buku pelajaran. Tujuan pertama yang dipikirkannya adalah pergi ke rumah nenek dari ibunya yang tidak jauh dari rumahnya.

Sejak saat itu dia selalu berpindah-pindah. Terkadang tinggal di kontrakan milik ibunya. Saat liburan sekolah, dia pergi ke Purwakarta untuk mengunjungi rumah tante (adik ibu). “Saya pernah ditawari oleh bibi dan paman saya untuk menetap di Purwakarta. Di sana saya bisa lebih tenang mendalami Islam,” katanya.

Baca Juga!  Musa Franco Berhemat untuk Mendalami Islam

Namun King menolak, dia tidak ingin menjadi beban mereka. Setelah diajak oleh pamannya yang seorang dokter berkhitan, dia memutuskan untuk kembali ke daerah asalnya di Bogor.

King melanjutkan sekolah dan masih tinggal di rumah nenek, sampai dia lulus SMP, ibunya membujuk untuk kembali tinggal di rumah. King memutuskan kembali ke rumah berharap ayahnya sudah melunak dan menerima keyakinannya.

“Saat saya sampai di rumah, saya melihat surat kabar, tahun 2004, saat itu pengumuman keluluasan haya diumumkan di surat kabar, saya tersenyum dalam hati karena harapannya terkabul,” katanya. Karena ayahnya membeli surat kabar untuk melihat pengumuman kelulusan.

Saat bertemu ayahnya kembali, ternyata ayahnya masih bersikap dingin. King mencari sekolah untuk kelanjutan pendidikannya. Dia diterima di sebuah SMA Negeri Cibinong. Ada rasa bangga saat itu, karena King menjadi siswa sekolah negeri.

Namun, konflik kembali terjadi ketika mereka melakukan kebaktian keluarga di akhir tahun. Awalnya hanya pertanyaan-pertanyaan sederhana, tetapi adu pendapat soal agama masing-masing terjadi.

Banyak hal yang diperdebatkan saat itu, terutama isi dari alkitab dan alasan ayahnya tetap berpegang teguh pada agamanya. Begitu juga King yang tetap meyakini Islam agamanya yang paling benar.

“Konsep ketuhanan dan hidup setelah kematian ini yang tidak ditemukan dalam agama ayah saya,” ujarnya. Islam menjelaskan kehidupan seseorang, dari sebelum lahir bahkan saat masih berbentuk sel telur hingga wafat dan berada di mana saja. Sedangkan agama ayahnya mengajarkan konsep dosa dan ketuhanan yang baginya tidak dapat diterima logika.

King menjelaskan, inspirasi untuk berdiskusi dengan ayahnya selain Alquran dan sunnah adalah buku dan video kristolog Ahmad Deedad.

Mendalami Islam di pondok pesantren Karena belum bebas beribadah, pemuda ini merasa tidak nyaman berada di rumah. Lagipula tidak ada titik temu soal keyakinan. Dia memutuskan untuk pergi dari rumah.

Baca Juga!  Alhamdulillah, Istri Ananda Omesh Putuskan Berhijrah

Dia dibantu ibunya mencari pondok pesantren di dekat sekolah. Akhirnya, dia menemukan satu pondok pesantren sederhana yang bisa menyediakan tempat tinggal, bersekolah, dan mengaji di malam hari, yaitu at-Taubah di Klapanunggal, Bogor. Pondok ini sederhana. Fasilitasnya terbatas. Namun, pengelolanya selalu bersedia menerima santri dengan latar belakang apa pun.

Kiai di pesantren itu juga tidak memungut bayaran. Santri yang ingin berinfak dapat memberi seikhlasnya untuk membayar listrik. Banyak santri yang tidak mampu dan mualaf tinggal di sana, selain membaca Alquran, mereka mempelajari kitab kuning dan tafsir Alquran

Begitu juga King, karena pada siang hari dia harus pergi ke sekolah, dia hanya bisa mengaji di malam hari. Karena sulitnya beribadah, sehingga dalam membaca Al quran pun tertinggal dengan teman seusianya. Saat SMA dia masih belajar Iqra bersama anak-anak SD. King tidak merasa malu karena niatnya agar bisa membaca Alquran.

Setelah bisa membaca Alquran, justru dia yang diperintah kiainya untuk meng ajarkan anak-anak belajar Iqra. Dia pun sering diminta untuk mengaji Alquran bagi orang-orang yang meninggal di sekitar pondok pesantren. Memang ada kebiasaan, setiap ada Muslim meninggal di daerah tersebut selalu meminta santri pondok pesantren mengaji Alquran semalaman.(ARS/R1/ROL)

You may also read!

DTKJ: Tiga Langkah Perbaiki Transportasi Jakarta

SUARAJAKTIM.COM - Anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) Eva Azhra Latifa merekomendasikan tiga langkah untuk mendorong pengguna kendaraan pribadi

Read More...

Sandiaga Uno Rasakan Tren Pilpres Mirip Pilgub DKI

SUARAJAKTIM.COM - Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno merasakan jika tren pemilihan presiden (Pilpres) tahun ini sama dengan pemilihan

Read More...

Anies Baswedan Harap Ombudsman Lengkapi Temuan Premanisme Tanah Abang

SUARAJAKTIM.COM - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berharap Ombudsman Jakarta Raya melengkapi temuan mereka yang menyebutkan ada praktik premanisme

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu